[Photo Story] Gambus Laut
GAMBUS ADALAH ALAT SENINYA, LAUT ADALAH GELORA IRAMANYA
Sampai saat ini belum ada penelitian tentang sejarah desa Gambus Laut secara khusus, kecuali catatan ringkas Acmad Munir bin O.K.Uyub yang berjudul “Lintasan Riwayat Negeri Gambus Laut Dari Masa ke Masa” . Namun demikian beberapa bukti seperti makam-makam tua yang ada dan jenis tanaman yang ditanam dahulu seperti kelapa dapat menggambarkan bahwa awal mula perkampungan yang dihuni di desa Gambus Laut terletak di sekitar Pematang Buluh didekat garis pantai desa Gambus Laut. Kemudian perkampungan tersebut berpindah ke lokasi dimana sekarang masyarakat tinggal (sekitar 3 km dari garis pantai) karena perubahan kondisi lingkungan sehingga daerah Pematang Buluh dianggap sudah tidak cocok lagi untuk hidup.
Cerita Rakyat
Dalam beberapa cerita masyarakat, asal usul Gambus Laut bermula dari riwayat sungai Kubah, salah satu sungai yang ada didesa Gambus Laut. Singkat cerita, dahulu ada seorang tukang sampan dari Kedah merantau ke sebuah tempat di pinggir pantai. Orang tersebut menemukan sebuah pohon yang besar yang cocok untuk dibuat menjadi sampan saguh. Maka ditebanglah pohon tersebut dan mulailah orang Kedah itu membuat sampan saguh. Ketika sedang membuat sampan, berhembuslah angin Timur yang membuat kayu yang dikapak menjadi berdenting. Dentingan tersebut menyerupai suara Gambus Melayu dan suara gelora laut menjadi iramanya. Kayu yang ditebangnya, kemudian diberi nama kayu Gambus. Setelah orang Kedah itu meninggal dunia, kuburannya kemudian dianggap keramat oleh penduduk setempat yang disebut Kubah. Sehingga sungai yang mengalir dekat kuburan orang Kedah itu dinamakan sungai Kubah.
Riwayat Raja-raja Negeri Gambus Laut sampai masa Penjajahan Belanda
Dari perjalanan masa akhirnya Gambus Laut berkembang menjadi sebuah negeri. Dalam terombo atau silsilah yang disusun oleh O.K Uyub, tercatat bahwa O.K Kamaruddin adalah orang pertama yang menjadi Tungkat Negeri Gambus Laut dengan gelar Datuk Seri Indra Diraja . Kampung-kampung yang termasuk dalam wilayah negeri Gambus Laut tempo dulu adalah Pematang Limau Sundai, Pematang Kawat, Pematang Polong, Pematang Segenap, Pematang Buluh, Pematang Panai, Pematang Sungai Mogang, Pematang Satu dan lain-lain . Tungkat Negeri Gambus Laut setelah di jabat oleh O.K Kamaruddin kemudian dari waktu ke waktu berganti-ganti keanak-cucunya. Nama-nama Tungkat Negeri Gambus Laut setelah O.K Kamaruddin adalah sebagai berikut :
1.O.K. Soman bin O.K. Kamarudin
2.Datuk Panglima Dalam bin O.K Kamarudin
3.O.K Ulung Muhammad bin Datuk Panglima Dalam
4.O.K Ingah Nurdin bin Datuk Panglima Dalam
5.O.K Bahrun bin O.K. Kamaruddin.
6.O.K Mohd. Lawi bin O.K. Kamaruddin
7.O.K. Ingah bin O.K. Mohd. Lawi
8.O.K. Jayo bin O.K Ingah
9.Ijai Menantu Modu binti O.K. Kamaruddin
Pada waktu itu, semua datuk-datuk yang memerintah negerinya menentang masuknya penjajahan Belanda. Namun akhirnya, Belanda pun berhasil menguasai syahbandar di muara Kuala Gambus dan muara Teluk Piyai yang sebelumnya dikuasai Kesultanan Siak. Untuk mempermudah pengendalian daerah jajahan, Belanda akhirnya menggabungkan negeri Gambus Laut, kampung Perupuk, Teluk Piyai kedalam satu wilayah nama kampung Perupuk dibawah kekuasaan negeri Lima Puluh. Sebagai Tungkat Kampung (Kepala desa) Perupuk ditunjuklah O.K Sodang sedangkan raja negeri Lima Puluh pada waktu itu adalah Wan Bagus gelar Datuk Seri Maharaja bergelar ke Sultan Siak.
Pemerintah Belanda kemudian menetapkan batas-batas kekuasaan raja-raja di wilayah Batubara sekitar tahun 1882. Pada tanggal 31 Mei 1884, Pemerintah Belanda mengambil alih pajak dan monopoli kesatuan Syahbandar. Di wilayah Batubara pengambil alihan pajak dan monopoli syahbandar tersebut kemudian diatur dalam perjanjian dengan raja-raja di Batubara pada tanggal 4 Juli 1889, 11 November 1890 dan 25 Oktober 1898. Dengan demikian syahbandar Kuala Gambus dan Teluk Piyai yang berada di kampung Perupuk juga termasuk yang dimonopoli dan diambil alih pajaknya oleh Belanda karena negeri Gambus Laut yang sudah disatukan menjadi kampung Perupuk, merupakan kekuasaaan negeri Lima Puluh yang pada waktu itu termasuk salah satu kerajaan kecil yang berada di wilayah Batubara.
Setelah Datuk Seri Maharaja Wan Bagus wafat, kemudian pimpinan negeri Lima Puluh digantikan oleh putranya yaitu Wan Alang. Oleh Belanda, Wan Alang kemudian di tabalkan sebagai Zelfbestuur van Lima Puluh pada tanggal 15 Februari 1901. Walaupun begitu, Wan Alang tetap bergelar juga ke Sultan Siak dengan gelar Datuk Seri Maharaja.
Sedangkan Tungkat Kampung Perupuk tetap dipegang oleh O.K Sodang sampai akhirnya wafat dan digantikan sementara oleh O.K Kulung.
Pada tahun 1932, Wan Alang Datuk Negeri Lima Puluh mengangkat puteranya Datuk Muda Bawang menjadi Tungkat Kampung Perupuk. Datuk Muda Bawang kemudian menunjuk O.K Uyub bin O.K Ingah sebagai pembantu Tungkat Kampung di wilayah Gambus Laut. Namun karena sesuatu hal pada tahun 1935, Datuk Muda Bawang mengundurkan diri sebagai Tungkat Kampung Perupuk. Oleh Gouvernement (sebutan Pemerintah Belanda) ditetapkanlah O.K Uyub sebagai Tungkat Kampung Perupuk yang baru.
Masa Penjajahan Jepang
Pada tahun 1940, berita tentang serangan-serangan Jepang sudah mulai terdengar dan akhirnya benar-benar mendarat di pulau Sumatra pada tanggal 13 Maret 1942. Melalui laut, pasukan Jepang masuk ke Selat Malaka dan mendarat di pantai Sejarah (Teluk Piyai), kampung Perupuk. Dari kampung Perupuk inilah Jepang kemudian melakukan serangan-serangan ke daerah lain di Sumatra sehingga akhirnya seluruh Sumatra dikuasai. Pemerintahan Sipil bentukkan Jepang pun mulai dijalankan. Pantai Sejarah (Teluk Piyai) dan sepanjang pasar Guntung sampai ke Bulan-Bulan menjadi tempat latihan pertahanan militer Jepang. Parit-parit benteng pertahanan di sekitar Teluk Piyai kemudian dibangun dengan kerja paksa. Bekas-bekas peninggalan pendudukan Jepang tersebut seperti terowongan bawah tanah di dekat Pantai Sejarah masih dapat dilihat hingga sekarang.
Setelah Jepang menduduki bumi Sumatra sampai akhirnya menyerah dengan pasukan Sekutu, perlawanan-perlawanan terhadap Belanda dan sekutu untuk merebut kemerdekaan Indonesiapun terjadi di desa ini. Sekitar tahun 1952 , sebagian masyarakat Gambus Laut ikut andil untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka bergabung dan membentuk Brigade Nelayan (BrigNa) yang dipersenjatai oleh pemerintah Indonesia pada waktu itu untuk membantu melakukan pengamanan laut dari kemungkinan masuknya kembali Belanda dan sekutunya.
Kini . . .
Pada tahun 1966, TNI Brawijaya V masuk ke Gambus Laut untuk melakukan operasi pemberantasan G30S PKI. Disela-sela operasi pemberantasan ini, TNI dan masyarakat mulai membangun jalan-jalan dusun untuk mempermudah hubungan masyarakat antar dusun karena pada waktu itu kondisi hutan alam pada saat itu masih sangat lebat.Pembangunan jalan ini merupakan rintisan awal dari jalan-jalan dusun yang ada saat ini.
Catatan:
Sampai saat ini belum ada penelitian tentang sejarah desa Gambus Laut secara khusus, kecuali catatan ringkas Acmad Munir bin O.K.Uyub yang berjudul “Lintasan Riwayat Negeri Gambus Laut Dari Masa ke Masa” . Namun demikian beberapa bukti seperti makam-makam tua yang ada dan jenis tanaman yang ditanam dahulu seperti kelapa dapat menggambarkan bahwa awal mula perkampungan yang dihuni di desa Gambus Laut terletak di sekitar Pematang Buluh didekat garis pantai desa Gambus Laut. Kemudian perkampungan tersebut berpindah ke lokasi dimana sekarang masyarakat tinggal (sekitar 3 km dari garis pantai) karena perubahan kondisi lingkungan sehingga daerah Pematang Buluh dianggap sudah tidak cocok lagi untuk hidup.
Cerita Rakyat
Dalam beberapa cerita masyarakat, asal usul Gambus Laut bermula dari riwayat sungai Kubah, salah satu sungai yang ada didesa Gambus Laut. Singkat cerita, dahulu ada seorang tukang sampan dari Kedah merantau ke sebuah tempat di pinggir pantai. Orang tersebut menemukan sebuah pohon yang besar yang cocok untuk dibuat menjadi sampan saguh. Maka ditebanglah pohon tersebut dan mulailah orang Kedah itu membuat sampan saguh. Ketika sedang membuat sampan, berhembuslah angin Timur yang membuat kayu yang dikapak menjadi berdenting. Dentingan tersebut menyerupai suara Gambus Melayu dan suara gelora laut menjadi iramanya. Kayu yang ditebangnya, kemudian diberi nama kayu Gambus. Setelah orang Kedah itu meninggal dunia, kuburannya kemudian dianggap keramat oleh penduduk setempat yang disebut Kubah. Sehingga sungai yang mengalir dekat kuburan orang Kedah itu dinamakan sungai Kubah.
Riwayat Raja-raja Negeri Gambus Laut sampai masa Penjajahan Belanda
Dari perjalanan masa akhirnya Gambus Laut berkembang menjadi sebuah negeri. Dalam terombo atau silsilah yang disusun oleh O.K Uyub, tercatat bahwa O.K Kamaruddin adalah orang pertama yang menjadi Tungkat Negeri Gambus Laut dengan gelar Datuk Seri Indra Diraja . Kampung-kampung yang termasuk dalam wilayah negeri Gambus Laut tempo dulu adalah Pematang Limau Sundai, Pematang Kawat, Pematang Polong, Pematang Segenap, Pematang Buluh, Pematang Panai, Pematang Sungai Mogang, Pematang Satu dan lain-lain . Tungkat Negeri Gambus Laut setelah di jabat oleh O.K Kamaruddin kemudian dari waktu ke waktu berganti-ganti keanak-cucunya. Nama-nama Tungkat Negeri Gambus Laut setelah O.K Kamaruddin adalah sebagai berikut :
1.O.K. Soman bin O.K. Kamarudin
2.Datuk Panglima Dalam bin O.K Kamarudin
3.O.K Ulung Muhammad bin Datuk Panglima Dalam
4.O.K Ingah Nurdin bin Datuk Panglima Dalam
5.O.K Bahrun bin O.K. Kamaruddin.
6.O.K Mohd. Lawi bin O.K. Kamaruddin
7.O.K. Ingah bin O.K. Mohd. Lawi
8.O.K. Jayo bin O.K Ingah
9.Ijai Menantu Modu binti O.K. Kamaruddin
Pada waktu itu, semua datuk-datuk yang memerintah negerinya menentang masuknya penjajahan Belanda. Namun akhirnya, Belanda pun berhasil menguasai syahbandar di muara Kuala Gambus dan muara Teluk Piyai yang sebelumnya dikuasai Kesultanan Siak. Untuk mempermudah pengendalian daerah jajahan, Belanda akhirnya menggabungkan negeri Gambus Laut, kampung Perupuk, Teluk Piyai kedalam satu wilayah nama kampung Perupuk dibawah kekuasaan negeri Lima Puluh. Sebagai Tungkat Kampung (Kepala desa) Perupuk ditunjuklah O.K Sodang sedangkan raja negeri Lima Puluh pada waktu itu adalah Wan Bagus gelar Datuk Seri Maharaja bergelar ke Sultan Siak.
Pemerintah Belanda kemudian menetapkan batas-batas kekuasaan raja-raja di wilayah Batubara sekitar tahun 1882. Pada tanggal 31 Mei 1884, Pemerintah Belanda mengambil alih pajak dan monopoli kesatuan Syahbandar. Di wilayah Batubara pengambil alihan pajak dan monopoli syahbandar tersebut kemudian diatur dalam perjanjian dengan raja-raja di Batubara pada tanggal 4 Juli 1889, 11 November 1890 dan 25 Oktober 1898. Dengan demikian syahbandar Kuala Gambus dan Teluk Piyai yang berada di kampung Perupuk juga termasuk yang dimonopoli dan diambil alih pajaknya oleh Belanda karena negeri Gambus Laut yang sudah disatukan menjadi kampung Perupuk, merupakan kekuasaaan negeri Lima Puluh yang pada waktu itu termasuk salah satu kerajaan kecil yang berada di wilayah Batubara.
Setelah Datuk Seri Maharaja Wan Bagus wafat, kemudian pimpinan negeri Lima Puluh digantikan oleh putranya yaitu Wan Alang. Oleh Belanda, Wan Alang kemudian di tabalkan sebagai Zelfbestuur van Lima Puluh pada tanggal 15 Februari 1901. Walaupun begitu, Wan Alang tetap bergelar juga ke Sultan Siak dengan gelar Datuk Seri Maharaja.
Sedangkan Tungkat Kampung Perupuk tetap dipegang oleh O.K Sodang sampai akhirnya wafat dan digantikan sementara oleh O.K Kulung.
Pada tahun 1932, Wan Alang Datuk Negeri Lima Puluh mengangkat puteranya Datuk Muda Bawang menjadi Tungkat Kampung Perupuk. Datuk Muda Bawang kemudian menunjuk O.K Uyub bin O.K Ingah sebagai pembantu Tungkat Kampung di wilayah Gambus Laut. Namun karena sesuatu hal pada tahun 1935, Datuk Muda Bawang mengundurkan diri sebagai Tungkat Kampung Perupuk. Oleh Gouvernement (sebutan Pemerintah Belanda) ditetapkanlah O.K Uyub sebagai Tungkat Kampung Perupuk yang baru.
Masa Penjajahan Jepang
Pada tahun 1940, berita tentang serangan-serangan Jepang sudah mulai terdengar dan akhirnya benar-benar mendarat di pulau Sumatra pada tanggal 13 Maret 1942. Melalui laut, pasukan Jepang masuk ke Selat Malaka dan mendarat di pantai Sejarah (Teluk Piyai), kampung Perupuk. Dari kampung Perupuk inilah Jepang kemudian melakukan serangan-serangan ke daerah lain di Sumatra sehingga akhirnya seluruh Sumatra dikuasai. Pemerintahan Sipil bentukkan Jepang pun mulai dijalankan. Pantai Sejarah (Teluk Piyai) dan sepanjang pasar Guntung sampai ke Bulan-Bulan menjadi tempat latihan pertahanan militer Jepang. Parit-parit benteng pertahanan di sekitar Teluk Piyai kemudian dibangun dengan kerja paksa. Bekas-bekas peninggalan pendudukan Jepang tersebut seperti terowongan bawah tanah di dekat Pantai Sejarah masih dapat dilihat hingga sekarang.
Setelah Jepang menduduki bumi Sumatra sampai akhirnya menyerah dengan pasukan Sekutu, perlawanan-perlawanan terhadap Belanda dan sekutu untuk merebut kemerdekaan Indonesiapun terjadi di desa ini. Sekitar tahun 1952 , sebagian masyarakat Gambus Laut ikut andil untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka bergabung dan membentuk Brigade Nelayan (BrigNa) yang dipersenjatai oleh pemerintah Indonesia pada waktu itu untuk membantu melakukan pengamanan laut dari kemungkinan masuknya kembali Belanda dan sekutunya.
Kini . . .
Pada tahun 1966, TNI Brawijaya V masuk ke Gambus Laut untuk melakukan operasi pemberantasan G30S PKI. Disela-sela operasi pemberantasan ini, TNI dan masyarakat mulai membangun jalan-jalan dusun untuk mempermudah hubungan masyarakat antar dusun karena pada waktu itu kondisi hutan alam pada saat itu masih sangat lebat.Pembangunan jalan ini merupakan rintisan awal dari jalan-jalan dusun yang ada saat ini.
Catatan:
- Desa Gambus Laut terletak di Kecamatan Lima Puluh, Kabupaten Asahan-Sumatra Utara
- Cerita ini merupakan kompilasi data interview,data pustaka, dan kliping koran....
Teriring salam buat masyarakat Gambus Laut,
Thomas Feri
Thomas Feri

